Kamis, 14 November 2013

0 bioetanol kulit pisang

1
I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bioetanol sempat menjadi primadona sebagai sumber energi alternatif pengganti Bahan
Bakar Minyak (BBM) di Indonesia terkait dengan isu menurunnya ketersediaan sumber energi
bahan bakar minyak bumi untuk memproduksi BBM. Keuntungan penggunaan biotenol
sebagai bahan bakar adalah memiliki nilai oktan lebih tinggi daripada bensin, dapat digunakan
dalam bentuk murni dan campuran dengan bensin, mudah terurai dalam air dan ramah
lingkungan, sehingga merupakan bahan bakar alternatif yang potensial untuk dikembangkan.
Dalam industri bioetanol umumnya digunakan sebagai bahan baku industri alkohol, campuran
untuk minuman keras, bahan farmasi, dan kosmetika. Bioetanol telah dimanfaatkan sebagai
bahan bakar substitusi BBM untuk motor bensin. Sebagai bahan pensubtitusi bensin, bioetanol
dapat diaplikasikan dalam bentuk bauran dengan minyak bensin (EXX), misalkan bioetanol
campuran dengan bensin pada konsentrasi 10% (E10), yaitu 10% bioetanol dan 90% bensin
atau digunakan 100% (E100). Menurut Hambali et al. (2008) campuran bahan bakar ini
dikenal sebagai Gasohol.
Ditinjau dari ketersediaan bahan baku, lignoselulosa memiliki keunggulan dibandingkan
bahan lain. Bahan ini tersedia dalam jumlah yang sangat banyak mengingat bahan tersebut
adalah bagian dari dinding sel tanaman, mudah diperbaharui, serta memiliki harga yang murah
(Szczodrak dan Fiedurek 1996). Disamping itu, pemanfaatan lignoselulosa tidak berkompetisi
dengan pangan karena lignoselulosa dapat diperoleh dari bermacam-macam sumber, seperti
limbah pertanian, limbah industri dan limbah industri berbasis kayu.
Indonesia memiliki sumber lignoselulosa yang berpotensi untuk dimanfaatkan salah
satu diantaranya yaitu limbah tanaman jagung (LTJ). Teknologi yang mengkonversi biomassa
menjadi bioetanol merupakan teknologi yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena dapat
memanfaatkan bahan limbah sebagai bahan baku. Ketersediaannya berkorelasi dengan
budidaya tanaman jagung. Berdasarkan data lapangan, bobot LTJ dari satu tanaman jagung
adalah 73,83 gram. Menurut Wirawan et al. (2000), populasi tanaman jagung optimal berkisar
antara 62.500 – 100.000 tanaman per hektar. BPS menyatakan bahwa rata-rata luas lahan
produksi jagung nasional pada tahun 2005 sampai dengan 2009 mencapai 4 juta hektar.
Beberapa konversi yang digunakan adalah 430 miligram glukosa per gram biomassa (Kaar dan
Holtzapple 2000) dan 0,51 gram bioetanol per gram glukosa (Demirbas 2005), serta berat jenis
etanol 0,789 gram/cm3, maka potensi bioetanol yang dapat diproduksi dengan lahan seluas ini
adalah berkisar 5 juta sampai 8,2 juta kiloliter bioetanol per panen atau sama dengan 15 juta
sampai 24,6 juta kiloliter bioetanol per tahunnya.
Pemerintah turut mendukung peningkatan penggunaan bahan bakar nabati dengan
dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional serta
Instruksi Presiden No. 1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
(biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan
Energi Nasional menyatakan bahwa dalam kurun waktu 2007-2010, pemerintah menargetkan
mengganti 1,48 miliar liter bensin dengan bioetanol. Persentase itu akan meningkat menjadi
10% pada tahun 2011-2015, dan 15% pada 2016-2025. Pada kurun waktu pertama 2007-2011
selama 4 tahun pemerintah memerlukan rata-rata 370.000.000 liter bioetanol per tahun.
Berdasarkan total kebutuhan tersebut, pada tahun 2007 seperti yang dapat dilihat pada Tabel 1,
2
pemerintah hanya mampu memasok sekitar 174.328.000 liter atau sekitar 47% saja. Hal ini
berarti setiap bulan pemerintah kekurangan pasokan 195.672.000 liter bioetanol untuk bahan
bakar.
Tabel 1. Data bioetanol di Indonesia
Tahun
Produksi Bioetanol Nilai Ekspor Bioetanol Nilai Impor Bioetanol
(liter/tahun) % (liter/tahun) % (liter/tahun) %
2003
2004
2005
2006
2007
158.388.000
160.686.000
167.984.000
169.752.000
174.328.000
19,06
19,33
20,21
20,42
20,97
506.717.560
581.539.694,5
671.448.405,5
680.088.933
682.819.776
16,23
18,62
21,50
21,78
21,87
506.276.550,1
511.397.955,6
521.522.008,9
523.547.530
529.565.340
19,53
19,73
20,12
20,20
20,42
Sumber: BPS dalam Nurcholis (2010)
Adanya kebutuhan bioetanol nasional yang masih belum terpenuhi merupakan suatu
peluang untuk memproduksi bioetanol. Pasar produk bioetanol masih terbuka lebar dan
persaingan belum ketat. Oleh karena itu, peluang untuk memasuki pasar bioetanol ini masih
terbuka lebar. Industri bioetanol yang sudah ada di Indonesia sebagian besar dari bahan baku
bergula seperti molasses, sedangkan untuk industri bioetanol yang berbahan baku dari limbah
tanaman jagung masih jarang, bahkan belum ada di Indonesia. Beberapa tahun terakhir, citra
bioetanol mulai meredup. Pada awal munculnya bioetanol disebut dengan bioetanol generasi
pertama, yaitu bioetanol menggunakan bahan baku berpati dan bergula. Penggunaan bahan
berpati dan bergula sebagai bahan baku bioetanol mulai menimbulkan masalah pada ketahanan
pangan di Indonesia, sehingga terjadi dua kepentingan dari bahan baku tersebut yaitu sebagai
bahan pangan sekaligus sebagai bahan energi. Pengembangan bioetanol terus dilakukan sampai
akhirnya muncul bioetanol generasi kedua, yaitu bioetanol yang menggunakan bahan
berselulosa/berlignoselulosa sebagai bahan baku.
Masalah yang dihadapi adalah bagaimana mengusahakan bioetanol ini layak secara
komersial sebagai pengganti bahan bakar fosil dari segi produksi, biaya dan waktu. Kelayakan
pengembangan produksi bioetanol dari bahan lignoselulosa mempertimbangkan efektifitas dan
efisiensi dari masing-masing rancangan percobaan.
Limbah tanaman jagung merupakan salah satu sumber bahan baku bioetanol dari
kelompok lignoselulosa yang belum banyak dikaji untuk digunakan sebagai bahan baku
industri bioetanol, walaupun studi skala laboratorium sudah ada yang memanfaatkan limbah
tanaman jagung sebagai bahan baku. Upaya pengembangan bioetanol limbah tanaman jagung
yang akan diimplementasikan perlu dilakukan kajian tekno ekonomi limbah tanaman jagung
untuk melihat bagaimana prospek pendirian industri ini dimasa yang akan datang.
B. TUJUAN
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengkaji aspek ekonomi dalam kelayakan
pendirian industri bioetanol berdasarkan rancangan percobaan laboratorium yang meliputi
aspek pasar pemasaran, aspek teknik teknologi, aspek manajemen organisasi, aspek lingkungan
dan legalitas serta analisis finansial. Penelitian ini juga menganalisis tingkat kepekaan
(sensitifitas) kondisi kelayakan usaha apabila terjadi perubahan-perubahan.
3
C. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup penelitian ini meliputi studi kelayakan pada aspek pasar pemasaran
bioetanol limbah tanaman jagung, teknik dan teknologi industri bioetanol limbah tanaman
jagung, manajemen organisasi industri bioetanol limbah tanaman jagung, lingkungan dan
legalitas industri bioetanol limbah tanaman jagung, dan analisis finansial industri bioetanol
limbah tanaman jagung.
D. MANFAAT
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan baik bagi penulis, bagi
pemilik modal, maupun pembaca. Studi ini merupakan penerapan dari dari ilmu yang telah
didapat selama perkuliahan sehingga dapat menambah wawasan penulis dalam suatu bidang
usaha. Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai salah satu masukan apakah pendirian usaha
tersebut sebenarnya layak atau tidak, dan memberikan rekomendasi terhadap pemilik modal
yang akan menginvestasikan uangnya untuk pendirian industri ini. Bagi pembaca dapat
memberikan informasi mengenai pendirian industri bioetanol berbahan baku limbah tanaman
jagung.

0 komentar:

Posting Komentar